Apa yang Anda bayangkan tentang pensiun? Kebanyakan orang beranggapan bahwa pensiun terjadi setelah mencapai umur 60 tahun atau 55 tahun. Lalu bagaimana dengan pensiun dini? Wah, pensiun normal saja banyak orang yang tidak siap menjalaninya, apalagi pensiun dini.
Begitulah pendapat yang banyak dipahami di masyarakat kita. Banyak orang tidak siap menghadapi masa pensiun, akibatnya terjadilah depresi, kesehatan menurun, bahkan banyak yang stress karena mendapati kenyataan harus pensiun. Padahal sebenarnya pensiun tidak harus menunggu umur 55 tahun. Jika Anda bisa pensiun lebih cepat lalu menjalani hidup bahagia, kenapa tidak?
Sebagian besar orang Indonesia tidak siap menghadapi masa pensiun. Sebuah survei yang dikeluarkan perusahaan asuransi Axa yang mengukur tingkat kepuasan dan optimisme kelompok masyarakat di 8 negara di Asia, terdiri atas China, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura,dan Thailand, menyebutkan, masyarakat Indonesia dinilai pesimistis dalam hal pensiun dan baru mempersiapkannya pada usia 49 tahun. Berbeda dengan masyarakat Singapura dan India, yang mempersiapkan diri untuk menghadapi pensiun sejak usia 34 tahun dan 44 tahun.
Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia memiliki persepsi negatif terhadap istilah "pensiun". Persepsi ini berlangsung turun-temurun dan menganggap pensiun sebagai akhir dari perjalanan karir seseorang. Tak heran kalau banyak di antara pensiunan yang kualitas hidupnya jadi menurun. Kehidupan pensiunan yang kurang menyenangkan terjadi lantaran kurangnya kesiapan mental seseorang untuk menghadapinya. Hal tersebut tidak akan terjadi jika seseorang mempersiapkan dirinya dengan matang dan terencana jauh sebelum masa pensiun datang.
Di sisi lain, banyak orang yang baru memikirkan membangun usaha sebagai pengganti karirnya setelah masa pensiun dilaluinya. Selama berpuluh tahun bekerja, hidupnya tercurahkan habis untuk menjalani rutinitas pekerjaan sehingga tidak punya kesiapan sama sekali menghadapi masa pensiun. Kesempatan untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship tak dimanfaatkan secara sungguh-sungguh. Akibatnya, ketika memutuskan menjadi pengusaha saat sudah masuk masa pensiun, banyak di antara mereka tang tidak berhasil dan terpaksa usahanya gulung tikar sebelum memasuki tahun ke-3. Mereka telah terjebak sebagai pengusaha yang bermental karyawan.
Mungkin masih banyak yang belum menyadari bahwa kita telah meninggalkan era industri dan kini telah memasuki era pengetahuan (knowledge era). Di masa lalu orang baru bisa kaya setelah bekerja keras puluhan tahun. Tetapi sekarang, menjadi kaya tidak ada hubungannya dengan keturunan, usia dan pangkat. Di era pengetahuan, siapapun bisa kaya tanpa harus memandang status.
Anda tahu Mark Zuckerberg? Lantaran ide brilliantnya menemukan jejaring sosial Facebook, ia menjadi dikenal masyarakat dunia. Zuckerberg memulai Facebook pada Februari 2004 dari ruang kamarnya saat kuliah di Harvard University. Saat itu usianya baru 24 tahun, tetapi kekayaannya telah mencapai US$ 1,5 milyar (Rp. 13,5 trilyun). Zuckerberg adalah milyarder termuda di dunia yang menghasilkan kekayaan dengan usahanya sendiri.
Apa yang terjadi pada Zuckerberg ini membuktikan bahwa jiwa entrepreneurship bisa dibentuk sejak usia masih muda. Jika jalan untuk menjadi entrepreneur sudah terbuka, seseorang tidak perlu lagi menunggu hingga usia 55 tahun untuk memulai bisnis sendiri. Jika memungkinkan, jiwa entrepreneurship bisa Anda asah sejak Anda masih bekerja di perusahaan.Dengan demikian ketika tiba waktunya menjalani masa pensiun dan harus membangun bisnis sendiri, mental Anda sudah terbentuk dan lebih siap menghadapi resiko sebagai seorang pengusaha.
Nah, untuk itu segera persiapkan diri Anda dengan bekal entrepreneurship, agar jalan menuju kehidupan yang lebih baik pasca berhenti dari dunia kerja akan terbentang lebar. Tidak hanya itu, Anda pun akan punya kesiapan mental yang lebih matang saat menekuni bisnis sendiri kelak.
Kalau kesiapan menjadi seorang pengusaha sudah Anda miliki, pensiun di usia muda dan menjalani hidup penuh kebahagiaan, siapa yang tidak mau?
Begitulah pendapat yang banyak dipahami di masyarakat kita. Banyak orang tidak siap menghadapi masa pensiun, akibatnya terjadilah depresi, kesehatan menurun, bahkan banyak yang stress karena mendapati kenyataan harus pensiun. Padahal sebenarnya pensiun tidak harus menunggu umur 55 tahun. Jika Anda bisa pensiun lebih cepat lalu menjalani hidup bahagia, kenapa tidak?
Sebagian besar orang Indonesia tidak siap menghadapi masa pensiun. Sebuah survei yang dikeluarkan perusahaan asuransi Axa yang mengukur tingkat kepuasan dan optimisme kelompok masyarakat di 8 negara di Asia, terdiri atas China, Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Philipina, Singapura,dan Thailand, menyebutkan, masyarakat Indonesia dinilai pesimistis dalam hal pensiun dan baru mempersiapkannya pada usia 49 tahun. Berbeda dengan masyarakat Singapura dan India, yang mempersiapkan diri untuk menghadapi pensiun sejak usia 34 tahun dan 44 tahun.
Disadari atau tidak, masyarakat Indonesia memiliki persepsi negatif terhadap istilah "pensiun". Persepsi ini berlangsung turun-temurun dan menganggap pensiun sebagai akhir dari perjalanan karir seseorang. Tak heran kalau banyak di antara pensiunan yang kualitas hidupnya jadi menurun. Kehidupan pensiunan yang kurang menyenangkan terjadi lantaran kurangnya kesiapan mental seseorang untuk menghadapinya. Hal tersebut tidak akan terjadi jika seseorang mempersiapkan dirinya dengan matang dan terencana jauh sebelum masa pensiun datang.
Di sisi lain, banyak orang yang baru memikirkan membangun usaha sebagai pengganti karirnya setelah masa pensiun dilaluinya. Selama berpuluh tahun bekerja, hidupnya tercurahkan habis untuk menjalani rutinitas pekerjaan sehingga tidak punya kesiapan sama sekali menghadapi masa pensiun. Kesempatan untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship tak dimanfaatkan secara sungguh-sungguh. Akibatnya, ketika memutuskan menjadi pengusaha saat sudah masuk masa pensiun, banyak di antara mereka tang tidak berhasil dan terpaksa usahanya gulung tikar sebelum memasuki tahun ke-3. Mereka telah terjebak sebagai pengusaha yang bermental karyawan.
Mungkin masih banyak yang belum menyadari bahwa kita telah meninggalkan era industri dan kini telah memasuki era pengetahuan (knowledge era). Di masa lalu orang baru bisa kaya setelah bekerja keras puluhan tahun. Tetapi sekarang, menjadi kaya tidak ada hubungannya dengan keturunan, usia dan pangkat. Di era pengetahuan, siapapun bisa kaya tanpa harus memandang status.
Anda tahu Mark Zuckerberg? Lantaran ide brilliantnya menemukan jejaring sosial Facebook, ia menjadi dikenal masyarakat dunia. Zuckerberg memulai Facebook pada Februari 2004 dari ruang kamarnya saat kuliah di Harvard University. Saat itu usianya baru 24 tahun, tetapi kekayaannya telah mencapai US$ 1,5 milyar (Rp. 13,5 trilyun). Zuckerberg adalah milyarder termuda di dunia yang menghasilkan kekayaan dengan usahanya sendiri.
Apa yang terjadi pada Zuckerberg ini membuktikan bahwa jiwa entrepreneurship bisa dibentuk sejak usia masih muda. Jika jalan untuk menjadi entrepreneur sudah terbuka, seseorang tidak perlu lagi menunggu hingga usia 55 tahun untuk memulai bisnis sendiri. Jika memungkinkan, jiwa entrepreneurship bisa Anda asah sejak Anda masih bekerja di perusahaan.Dengan demikian ketika tiba waktunya menjalani masa pensiun dan harus membangun bisnis sendiri, mental Anda sudah terbentuk dan lebih siap menghadapi resiko sebagai seorang pengusaha.
Nah, untuk itu segera persiapkan diri Anda dengan bekal entrepreneurship, agar jalan menuju kehidupan yang lebih baik pasca berhenti dari dunia kerja akan terbentang lebar. Tidak hanya itu, Anda pun akan punya kesiapan mental yang lebih matang saat menekuni bisnis sendiri kelak.
Kalau kesiapan menjadi seorang pengusaha sudah Anda miliki, pensiun di usia muda dan menjalani hidup penuh kebahagiaan, siapa yang tidak mau?




Thanks infonya. Oiya ngomongin pensiun muda, banyak orang yang kurang mempersiapkannya dengan matang, sehingga yang terjadi malah menderita setelah tidak lagi bekerja. Nah, jika kamu punya rencana buat pensiun muda, sebaiknya persiapkan dengan sangat matang agar bisa hidup bahagia tanpa ada masalah finansial. Caranya? Yuk cek di artikel yang saya temuin ini:
BalasHapusYang perlu dilakukan jika mau pensiun muda