Home » , , , , , , » Bisa Keliling Indonesia Gara-gara Bisnis Online

Bisa Keliling Indonesia Gara-gara Bisnis Online

Diposting oleh Mas Is

Bisnis Online memang tidak mengenal adanya batasan wilayah, gender maupun usia. Siapa saja bisa melaksanakannya, termasuk Anda. Jika Anda punya kemauan, serta dibekali sedikit kemampuan bisa internetan, Insya Allah Anda bisa menjalankan bisnis online.

Salah satu contoh adalah bisnis Lulur yang dilakoni oleh Candra Alfamedya dan istrinya Dian Kusuma Dewi. Melalui produk yang bermanfaat untuk membantu wanita menjaga kebersihan sekaligus keindahan kulitnya ini, Candra mampu menembus pasar di seluruh Indonesia dengan menggunakan strategi pemasaran online.

bisnis-lulur-tradisional
Makin menjamurnya bisnis spa dan salon di berbagai kota, membuat lulur menjadi satu produk yang sangat dibutuhkan. Bukan hanya spa modern, lulur juga merambah ke spa rumahan atau door to door yang saat ini banyak digeluti mereka yang semula hanya menjajakan jasa pijit keliling.

Peluang inilah yang ditangkap oleh Candra Alfamedya dan istrinya Dian Kusuma Dewi. Dengan mengandalkan produk campuran bubuk beras dan rempah-rempah berkhasiat, keduanya berani memproduksi lulur tradisional yang dinamakan Lulur Kusuma Dewi, sejak 2007 silam.

Menurut Candra bisnisnya itu dimulai ketika dia terinspirasi oleh usaha keluarganya berjualan rempah-rempah di pasar Bringharjo, Yogyakarta. “Kebetulan si mbah sudah lama berjualan mpon-mpon . Saya terpikir sayang sekali kalau tidak dimanfaatkan untuk produk lain. Saya ingin mencoba membuat produk yang bernilai jual tinggi,” ujar sarjana jurusan perikanan ini.

Setelah melakukan riset, Candra pun menetapkan pilihannya untuk membuat lulur tradisional. Menurutnya, proses pembuatan lulur tak terlampau rumit dan bahan baku mudah didapat.  Alasannya lainnya, karena banyak perempuan yang masih setia melakukan ritual perawatan kecantikan tradisional.

Candra memulai bisnis lulur ini dengan modal awal hanya sebesar Rp5 juta. Modal tersebut dia gunakan untuk membeli mesin dan bahan baku, antara lain beras dan aneka rempah-rempah. Sedangkan untuk mesin, dia hanya menggunakan mesin giling dengan teknologi sederhana.

Untuk bahan baku lulur, Candra mendapatkannya dari daerah dataran tinggi seperti Kulon Progo, Bantul, Tawang Mangu, dan beberapa daerah lain.

Dengan modal seadanya itu, Candra menerapkan teknik tradisional untuk memproduksi lulur yang diberi nama Lulur Kusuma Dewi. “Cara pembuatan lulur cukup mudah. Awalnya, kami mengeringkan beras dan rempah-rempah. Komposisinya 50%—60% tepung beras, 30% rempah-rempah, 10% ada resep rahasia,” ujarnya.

Semua bahan yang sudah kering dicampur lalu dimasukkan ke mesin giling hingga teksturnya berubah jadi bubuk.  Setelah itu, lulur siap dimasukkan ke dalam kemasan plastik.

Untuk percobaan awal, Candra hanya memproduksi dua jenis lulur yaitu lulur putih dan lulur kuning. Bahan baku lulur putih dari bengkoang, sedangkan lulur kuning dari kunyit. Dia pun mulai memasarkan produk Lulur Kusuma Dewi ke konsumen. Tak disangka, banyak perempuan menyukai produk lulur buatan Candra.

Melihat respon yang positif, Candra pun makin yakin dengan bisnis yang dia geluti. Dia mulai bereskperimen membuat varian lulur lainnya untuk memenuhi permintaan konsumen, hingga mampu menciptakan 20 varian hingga sekarang, antara lain: bengkoang, susu, stroberi, melati, teh hijau, mawar, lavender, coklat, kopi, dan rumput laut.

Produk yang dijualnya pun tidak menggunakan bahan pengawet atau bahan kimia, sehingga  lulur buatannya tak bisa bertahan lama atau hanya berkisar 6 bulan di suhu ruang.

Untuk pemasaran produk yang saat ini sudah mulai dikenal di Jawa Tengah itu dilakukan oleh candra dengan cara online. “Berkat pemasaran online, jumlah konsumen pun meluas. Sekarang saya memiliki agen di Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Kalimantan.” ujarnya.

Selain itu, ia juga memasarkan produknya ke ke beberapa spa di Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Seiring dengan makin luasnya pasar, Candra pun terus menggenjot kapasitas produksi lulur. Jika dulu dia hanya bisa membuat 5—10 kilogram lulur, kini dia bisa menghasilkan 50—100 kilogram lulur per bulan.

Lulur Kusuma Dewi hadir dalam beberapa ukuran yaitu 25 gram, 250 gram, 500 gram, dan 1.000 gram atau 1 kilogram. Harganya pun bervariasi sesuai ukuran kemasan. Lulur Kusuma Dewi dibanderol mulai dari Rp2.500—Rp55.000 per kemasan. Margin keuntungan yang didapat mulai dari 20%—50%.

Meskipun kini jaman serba modern, Candra mengaku, bisnis lulur tradisional masih prospektif. “Saat ini, banyak orang yang memakai produk alami dan tradisional karena tidak ada efek sampingnya. Selain itu, penjualan juga meningkat karena banyak spa-spa baru bermunculan di kota besar.” (ciputra)


0 komentar:

Posting Komentar